Pemanis Buatan Aspartam, Perlukah Dihindari?
Pemanis Buatan Aspartam, Perlukah Dihindari?
Aspartam merupakan pemanis buatan rendah kalori yang banyak digunakan
dalam berbagai produk makanan maupun minuman. Terlepas dari
kepopulerannya, penggunaan aspartam juga menuai kontroversi karena
dinilai memiliki efek samping yang merugikan kesehatan.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris
Berdasarkan beberapa penelitian terbaru, aspartam setidaknya memiliki
tiga efek samping pada berat badan, nafsu makan dan metabolisme.
Berikut ini adalah ketiga efek samping tersebut :
Efek Samping Terhadap Berat Badan
Aspartam
memiliki kandungan kalori yang hampir sama besar dengan gula biasa,
yaitu 4 kalori per gram. Perbedaannya, aspartam memiliki rasa manis 200
kali lebih kuat dibandingkan gula sehingga penggunaan aspartam untuk
menghasilkan rasa manis tidak perlu sebanyak gula biasa. Karena sifat
ini, aspartam kerap digaungkan sebagai gula pengganti yang dapat
membantu proses penurunan berat badan.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris
Faktanya, penelitian
pada 2017 lalu menunjukkan bahwa kalori rendah pada pemanis buatan
seperti aspartam, sukralosa dan steviosida tidak terbukti efektif dalam
pengelolaan berat badan. Sebaliknya, pemantauan selama beberapa tahun
pada partisipan menunjukkan bahwa asupan pemanis buatan secara rutin
berkaitan dengan peningkatan berat badan serta lingkar pinggang.
Partisipan
yang mengonsumsi pemanis buatan di beberapa penelitian juga menunjukkan
adanya peningkatan massa indeks tubuh atau MIT. Padahal, MIT yang
tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik. Studi
pada 2017 lalu juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mengonsumsi
pemanis buatan secara rutin memiliki risiko lebih besar mengalami
penyakit jantung, diabetes dan stroke.
Efek Samping Terhadap Nafsu Makan
Aspartam
dan pemanis tak bernutrisi lain dapat memberi efek meningkatkan nafsu
makan. Nafsu makan yang besar berkaitan dengan peningkatan asupan
makanan.
Dalam jurnal Trends in Endocrinology and Metabolism
pada 2013, sebuah studi terhadap binatang mengungkapkan bahwa pemanis
buatan dapat meningkatkan nafsu makan dengan cara menganggu proses
pensinyalan di otak yang biasa terjadi ketika mengonsumsi makanan dengan
kalori lebih besar. Rasa manis biasanya memberi sinyal kepada tubuh
bahwa makanan sedang memasuki usus. Tubuh akan memiliki ekspektasi untuk
menerima kalori dan mengirimkan sinyal untuk berhenti makan dengan
memunculkan rasa kenyang.
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
Saat mengonsumsi pemanis buatan,
proses ini juga terjadi. Hanya saja tubuh mendapatkan kalori yang lebih
sedikit dari yang ekspektasi. Jika terjadi secara berulang, tubuh akan
melupakan hubungan antara rasa manis dan kalori sehingga nantinya
makanan berkalori tinggi tak lagi akan memicu tumbulnya rasa kenyang.
Kondisi ini akan memicu terjadinya makan berlebih.
Efek Samping Terhadap Metabolisme
Proses
yang menganggu kontrol nafsu makan dalam konsumsi aspartam juga dapat
membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit metabolik, seperti
diabetes tipe 2. Penelitian pada 2016 menunjukkan bahwa konsumsi pemanis
buatan dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan dan keragaman
bakteri yang tinggal di dalam usus.
Pada penelitian
terhadap binatang, gangguan seperti ini dapat memicu terjadinya
intoleransi glukosa. Intoleransi glukosa merupakan salah satu faktor
risiko dari diabetes tipe 2.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Penelitian lain pada 2016 juga
menunjukkan bahwa aspartam berkaitan dengan intoleransi glukosa yang
lebih besar pada orang obesitas. Akan tetapi efek yang sama tidak
ditemukan pada orang yang memiliki berat badan sehat. Penelitian ini
menunjukkan bahwa asupan aspartam secara berkala dapat meningkatkan
risiko intoleransi glukosa, khususnya pada orang yang sudah kelebihan
berat badan.
Efek Samping Lain
Laporan
selama beberapa dekade terakhir mengklaim bahwa aspartam memicu atau
meningkatkan risiko beragam masalah kesehatan. Beberapa di antaranya
adalah sakit kepala, kejang, depresi, ADHD, penyakit Alzheimer, multiple
sclerosis, kanker, lupus dan cacat bawaan. Namun belum ada bukti ilmiah
yang cukup untuk membuktikan bahwa aspartam benar-benar berkaitan
dengan masalah-masalah kesehatan ini.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
Orang-Orang yang Perlu Menghindari Aspartam
Secara
umum, konsumsi pemanis buatan aspartam tidak dilarang di banyak negara.
Organisasi seperti WHO, EFSA hingga FDA juga menyatakan aspartam masih
tergolong aman jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu.
Asupan
aspartam perhari yang masih dinyatakan aman menurut EFSA adalah 40 mg
per kg berat badan. Sedangkan menurut FDA, auspan aspartam yang masih
tergolong aman adalah 50 mg per kg berat badan.
Meski
penggunaan aspartam dalam jumlah terbatas dinyatakan aman, ada beberapa
kelompok orang yang sebaiknya menghindari konsumsi aspartam. Salah
satunya adalah orang yang menderita penyakit gangguan metabolik
Phenylketonuria (PKU).
Penderita PKU tidak dapat
memetabolisme kandungan phenylalanine dari makanan dan minuman dengan
baik. Phenylalanine merupakan satu dari tiga senyawa yang digunakan
dalam membuat aspartam. Penderita PKU perlu memantau asupan
phenylalanine dari makanan dan minuman dengan baik agar tingkat asupan
phenylalanine tidak sampai pada kadar yang membahayakan.
Penderita
gangguan saraf tardive dyskinesia (TD) juga perlu menghindari asupan
aspartam. Beberapa penelitian menyatakan bahwa Tardive phenylalanine
dapat memicu terjadinya pergerakan otot yang dikategorikan sebagai TD.

Comments
Post a Comment